model-model pembelajaran inovatif

Selasa, 09 Desember 2008

MAKALAH

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF UNTUK MATA PELAJARAN IPA DI SEKOLAH DASAR

OLEH:

MARSELINA WALI

061644039

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

2008

MOTTO:

Ø Semakin kita mendekatkan diri kepada Tuhan semakin banyak pula tantangan yang harus kita hadapi.

Ø Kemauan, kerja keras dan ketabahan adalah modal menuju keberhasilan.

KATA PENGANTAR

Tidak ada “kata” yang paling indah untuk diucapkan setelah selesainya makalah yang berjudul model-model pembelajaran inovatif untuk mata pelajaran ilmu pengetahuan alam di sekolah dasar ini kecuali mengucapkan syukur pada Allah Yang Maha Kuasa dan penolong yang setia, yang telah memberikan rahmat dan berkatnya, sehingga makalah ini dapat selesai tepat pada waktunya. Syukur dan terima kasih pula penulis ucapkan pada sahabat dan semua pihak yang dengan setia membantu dalam menyelesaikan makalah ini.

Sebagai pengajar atau pendidik, guru merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan setiap upaya pendidikan. Itulah sebabnya setiap adanya inofasi pendidikan, khususnya dalam kurikulum dan peningkatan sumber daya manusia yang di hasilkan dari upaya pendidikan selalu bermuara pada faktor guru. Hal ini menunjukan bahwa betapa penting dan beratnya peran guru dalam dunia pendidikan.

Pentingnya guru bergantung kepada guru itu sendiri. Sedikitnya terdapat tiga kata yang menjadikan seorang guru penting, tidak saja dalam penbelajaran di kelas, tetapi dalam kehidupan bermasyarakat. Tiga kata tersebut sekaligus menjadi sifat dan karakteristik guru, yakni: kreatif, profesional, dan menyenangkan. Guru harus kreatif dalam memilah dan memilih, serta mengembangkan materi standar untuk membentuk kompetensi peserta didik. Guru harus profesional dalam membentuk kompetensi sesuai dengan karakteristik peserta didik. Guru juga harus menyenangkan, tidak saja bagi peserta didik, tetapi bagi dirinya. Artinya, belajar dan pembelajaran harus menjadi makanan pokok guru sehari-hari, harus di cintai, agar dapat membentuk dan membangkitkan rasa cinta dan nafsu belajar peserta didik. Sifat kreatif, profesional, dan menyenangkan, sangat dituntut dan diperlukan bagi seorang guru sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, kebutuhan masyarakat serta perkembangan pandangan dunia terhadap pendidikan.

Oleh karena itu, makalah ini sangat bermanfaat bagi guru dan bagi para calon guru. Dalam memahami dan menelaah kembali model-model pembelajaran inovatif di sekolah dasar dengan berbagai ragam pendekatan. Penyusunan pengembangan model pembelajaran ini masih belum sempurna, sehingga penulis sangat mengharapkan saran dan kritik dari berbagai pihak demi kesempurnaannya.

Surabaya, November 2008

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

MOTTO

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I. PENDAHULUAN

BAB II. MODEL-MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF UNTUK MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA

I. Model Pembelajaran Langsung.

II. Model CLIS( Children Learning In Science )

III. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

IV. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw

V. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Investigasi Kelompok

VI. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS

VII. Model Pembelajaran Kooeratif Tipe NHT

BAB III. PENUTUP

Daftar Pustaka

BAB 1

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Sedikitnya terdapat tiga syarat utama yang harus di perhatikan dalam pembangunan pendidikan agar dapat berkontribusi terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), yakni sarana gedung, buku yang berkualitas, serta guru dan tenaga kependidikan yang profesional. Dalam situasi masyarakat yang selalu berubah, idealnya pendidikan tidak hanya berorientasi pada masa lalu dan masa kini, tetapi sudah seharusnya merupakan proses yang mengantisipasi dan membicarakan masa depan. Pendidikan hendaknya melihat jauh ke depan dan memikirkan apa yang akan di hadapi peserta didik di masa yang akan datng. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang tidak hanya mempersiapkan para siswanya untuk sesuatu profesi atau jabatan, tetapi untuk menyelesaikan masalah-masalah yang di hadapi siswa dalam kehidupan sehari-hari.

Secara empiris, rendahnya hasil belajar peserta didik disebabkan karena proses pembelajaran yang didominasi oleh pembelajaran tradisional. Pada pembelajaran ini suasana kelas cenderung teacher-centered sehingga siswa menjadi pasif. Meskipun demikian guru lebih suka menerapkan model tersebut, sebab tidak memerlukan alat dan bahan praktek, cukup menjelaskan konsep-konsep yang ada pada buku ajar atau referensi lain. Dalam hal ini siswa tidak diajarkan strategi belajar yang dapat memahami bagaimana belajar, berpikir dan memotivasi diri sendiri. Masalah ini banyak dijumpai dalam kegiatan proses belajar mengajar di kelas, oleh karena itu, perlu menerapkan strategi belajar yang dapat membantu siswa untuk memahami materi ajar dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu perubahan paradigma pembelajaran tersebut adalah orientasi pembelajaran yang semula berpusat pada guru (teacher centered) beralih berpusat pada murid (student centered); metodologi yang semula lebih didominasi ekspositori berganti ke partisipatori; dan pendekatan yang semula lebih banyak bersifat tekstual berubah menjadi kontekstual. Semua perubahan tersebut di maksudkan untuk memperbaiki mutu pendidikan, baik dari segi proses maupun hasil pendidikan.

Satu hal lagi bahwa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sebagai hasil pembaharuan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) tersebut juga menghendaki, bahwa suatu pembelajaran pada dasarnya tidak hanya mempelajari tentang konsep, teori dan fakta tapi juga aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian materi pembelajaran tidak hanya tersusun atas hal-hal sederhana yang bersifat hafalan dan pemahaman, tetapi juga tersusun atas materi yang kompleks yang memerlukan analisis, aplikasi dan sintesis. Untuk itu, guru harus bijaksana dalam menentukan suatu model yang sesuai yang dapat menciptakan situasi dan kondisi kelas yang kondusif agar proses belajar mengajar dapat berlangsung sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

Satu inovasi yang menarik mengiringi perubahan paradigma tersebut adalah ditemukan dan diterapkannya Model-Model Pembelajaran Inovatif dan Konstruktif atau lebih tepat dalam mengembangkan dan menggali pengetahuan peserta didik secara konkret dan mandiri. Inovasi ini bermula dan diadopsi dari metode kerja para ilmuwan dalam menemukan suatu pengetahuan baru.

Berdasarkan alasan tersebut, maka sangatlah urgen bagi para pendidik khususnya guru memahami karakteristik materi, peserta didik dan metodologi pembelajaran dalam proses pembelajaran terutama berkaitan debgan pemilihan terhadap model-model pembelajaran modern. Dengan demikian proses pembelajaran akan lebih variatif, inovatif dan konstruktif dalam merekonstruksi wawasan pengetahuan dan implementasinya sehingga dapat meningkatkan aktifitas dan kreatif peserta didik.

B. TUJUAN

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah:

1. Agar dapat dijadikan pedoman bagi para guru dalam merancang pembelajaran sehingga lebih menyenangkan dan dapat menjadikan siswa aktif.

2. Untuk dijadikan bahan bagi para calon guru sehingga dapat diterapkan dalam pembelajaran ketika sudah menjadi guru kelak.

BAB II

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF UNTUK MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA

I Model Pembelajaran Langsung

1. Ruang Lingkup pengajaran Langsung

a. Istilah dan pengertian

Model pengajaran langsung adalah salah satu pendekatan mengajar yang dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang berkaitan dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural yang terstruktur dengan baik yang dapat diajarkan dengan pola kegiatan yang bertahap, selangkah demi selangkah ( Arends, 1997 ). Antara lain training model, active, mastery teaching, explicit instruction.

Ciri-ciri model pengajaran langsung ( dalam Kardi & Nur, 2000: 3 ) adalah sebagai berikut :

i. Adanya tujuan pembelajaran dan pengaruh model pada siswa termasuk prosedur penilaian belajar.

ii. Sintaks atau pola keseluruhan dan alur kegiatan pembelajaran ; dan

iii. Sistem pengelolaan dan lingkungan belajar model yang diperlukan agar kegiatan pembelajaran tertentu dapat berlangsung dengan berhasil.

b. Tujuan pembelajaran

Para pakar teori belajar pada umumnya membedakan dua macam pengetahuan , yakni pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural. Pengetahuan deklaratif (dapat diunggkapkan dengan kata-kata ) adalah pengetahuan tentang sesuatu, sedangkan pengetahuan prosedural adalah pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu ( Kardi dan Nur, 2000 :4 ).

Seringkali penggunaan pengetahuan prosedural memerlukan penguasaan pengetahuan prasyarat yang berupa pengetahuan deklaratif. Para guru selalu menghendaki agar siswa- siswanya memperoleh kedua macam pengetahuan tersebut supaya mereka dapat melakukan suatu kegiatan dan melakukan segala sesuatu dengan berhasil.

c. Sintaks atau pola keseluruhan dan alur kegiatan pembelajaran

Pengajaran langsung, menurut Kardi (1997 :3 ) dapat berbentuk ceramah, demonstrasi, pelatihan atau praktek, dan menyampaikan pelajaran yang ditransformasikan langsung oleh guru kepada siswa. Penyusunan waktu yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran harus seefisien mungkin, sehingga guru dapat merancang dengan tepat waktu yang digunakan.

Sintaks Model Pengajaran langsung tersebut disajikan dalam 5[lima] tahap, seperti ditunjukan pada table 3.1 berikut.

Tabel 1

Sintaks Model Pengajaran Langsung

Fase

Peran Guru

Fase 1

Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa

Guru menjelaskan TPK, informasi latar belakang pelajaran, pentingnya pelajaran, mempersiapkan siswa untuk belajar.

Fase 2

Mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan

Guru mendemonstrasikan keterampilan dengan benar, atau menyajikan informasi tahap demi tahap .

Fase 3

Membimbing pelatihan

Guru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan awal .

Fase 4

Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik

Mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik, memberi umpan balik.

Fase 5

Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan.

Guru mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan, dengan pelatihan khusus pada penerapan kepada situasi lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari.

Sumber: Kardi & Nur (2000:8)

Pada fase persiapan, guru memotifasi siswa agar siap menerima presentasi materi pelajaran yang dilakukan melalui demonstrasi tentang keterampilan tertentu. Pembelajaran diakhiri dengan pemberian kesempatan kepada siswa untuk melakukan pelatihan dan pemberian umpan balik terhadap keberhasilan siswa. Pada fase pelatihan dan pemberian umpan balik tersebut, guru perlu selalu mencoba memberikan kesempatan pada siswa untuk menerapkan pengetahuan atau keterampilan yang dipelajari ke dalam situasi kehidupan nyata.

d. Lingkungan belajar dan system pengeloloaan

Pengajaran langsung memerlukan perencanaan dan pelaksanaan yang sangat hati-hati dipihak guru. Agar efektif, pengajaran langsung mensyaratkan tiap detil keterampilan atau isi didefinisikan secara seksama dan demonstrasi serta jadwal pelatihan direncanakan dan dilaksanakan secara seksama ( Kardi & Nur, 2000:8 ).

Menurut Kardi dan Nur (2000: 8-9), meskipun tujuan pembelajaran dapat direncanakan bersama oleh guru dan siswa, model ini terutama berpusat pada guru. Sistem pengelolaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru harus menjamin terjadinya keterlibatan siswa, terutama melalui memperhatikan, mendengarkan dan resitasi (Tanya jawab) yang terencana. Ini tidak berarti bahwa pembelajaran bersifat otoriter, dingin dan tanpa humor. Ini berarti bahwa lingkungan berorientasi pada tugas dan memberi harapan tinggi agar siswa mencapai hasil belajar dengan baik.

2. Pelaksanaan Pengajaran Langsung

1. Tugas – tugas perencanaan

Pengajaran langsung dapat diterapkan di bidang studi apapun, namun model ini paling sesuai untuk mata pelajaran yang berorientasi pada penampilan atau kinerja seperti menulis, membaca, matematika, musik dan pendidikan jasmani. Di samping itu pengajaran langsung juga cocok untuk mengajarkan komponen-komponen keterampilan dari mata pelajaran sejarah dan sains.

Ø Merumuskan tujuan

Untuk merumuskan tujuan pembelajaran dapat digunakan model Mager dalam Kardi dan Nur ( 2000: 18). Mager mengemukakan bahwa tujuan pembelajaran khusus harus sangat spesifik. Tujuan yang ditulis dalam format Mager dikenal sebagai tujuan perilaku dan terdiri dari tiga bagian yaitu: perilaku siswa, situasi pengetesan dan kriteria kinerja. Singkatnya menurut Mager tujuan yang baik perlu berorientasi pada siswa dan spesifik, mengandung uraian yang jelas tentang situasi penilaian ( kondisi evaluasi), dan mengandung tingkat ketercapaian kinerja yang diharapkan ( kriteria keberhasilan).

Ø Memilih isi

Kebanyakan guru pemula meskipun telah beberapa tahun mengajar, tidak dapat diharapkan akan menguasai sepenuhnya materi palajaran yang diajarkan. Bagi mereka yang masih dalam proses menguasai sepenuhnya materi ajar, disarankan agar dalam memilih materi ajar mengacu pada GBPP kurikulum yang berlaku, dan buku ajar tertentu ( Kardi dan Nur, 2000:20).

Ø Melakukan analisis tugas

Analisis tugas ialah alat yang digunakan oleh guru untuk mengidentifikasi dengan presisi yang tinggi hakekat yang setepatnya dari suatu keterampilan atau butir pengetahuan yang terstuktur dengan baik, yang akan diajarkan oleh guru. Ide yang melatar belakangi analisis tugas ialah, bahwa informasi dan keterampilan yang kompleks tidak dapat dipelajari semuanya dalam kurun waktu tertentu. Untuk mengembangkan pemahaman yang mudah dan pada akhir penguasaan, keterampilan dan pengertian kompleks itu lebih dulu harus dibagi menjadi komponen bagian, sehingga dapat diajarkan berurutan dengan logis dan tahap demi tahap ( Kardi dan Nur, 2000: 23)

Ø Merencanakan waktu dan ruang

Pada suatu pengajaran langsung, merencanakan dan mengelola waktu merupakan yang sangat penting. Ada dua hal yang harus diperhatikan oleh guru: memastikan bahwa waktu yang disediakan sepadan dengan bakat dan kemampuan siswa, dan memotivasi siswa agar mereka tetap melakukan tugas- tgasnya dengan perhatian yang optimal. Mengenal dengan baik siswa – siswa yang akan diajar, sangat bermanfaat untuk menentukan alokasi waktu pembelajaran. Merencanakan dan mengelola ruang untuk pengajaran langsung juga sama pentingnya ( Kardi dan Nur, 2000:23)

2. Langkah-langkah pembelajaran model pengajaran langsung

Ø Menyampaikan tujuan dan menyiapkan siswa

Ø Menyampaikan tujuan

Ø Menyiapkan siswa

Ø Presentasi dan demonstrasi

Ø Mencapai kejelasan

Ø Melakukan demonstrasi

Ø Mencapai pemahaman dan penguasaan

Ø Berlatih

Ø Memberikan latihan terbimbing

Ø Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik

Ø Memberikan kesempatan latihan mandiri

II Model CLIS( Children Learning In Science )

1. Pengertian

Model CLIS ( Children Learning In Science) merupakan model pembelajaran yang berusaha mengembangkan ide atau gagasan siswa tentang suatu masalah tertentu dalam pembelajaran serta merekonstruksi ide atau gagasan berdasarkan hasil pengamatan atau percobaan.

2. Tujuan

Dalam model pembelajaran ini, siswa diberi kesempatan untuk mengungkapkan berbagai gagasan tentang topik yang dibahas dalam pembelajaran, mengungkapkan gagasan serta membandingkan gagasan dengan gagasan siswa lainnya dan mendiskusikannya untuk menyamakan persepsi. Selanjutnya siswa diberi kesempatan merekontruksi gagasan setelah membandingkan gagasan tersebut dengan hasil percobaan, observasi atau hasil mencermati buku teks. Di samping itu, siswa juga mengaplikasikan hasil rekontruksi gagasan dalam situasi baru.

3. Tahap

Model ini terdiri atas 5 tahap, yaitu:

2. Tahap orientasi ( orientation )

Tahap orientasi merupakan tahapan yang dilakukan guru dengan tujuan untuk memusatkan perhatian siswa. Orientasi dapat dilakukan dengan cara menunjukkan berbagai fenomena yang terjadi di alam, kejadian yang dialami siswa dalam kehidupan sehari-hari atau demonstrasi. Selanjutnya menghubungkannya dengan topik yang akan dibahas.

3. Tahap pemunculan gagasan ( elicitation of ideas)

Kegiatan ini merupakan upaya yang dilakukan oleh guru untuk memunculkan gagasan siswa tentang topik yang dibahas dalam pembelajaran. Cara yang dilakukan bisa dengan meminta siswa untuk menuliskan apa saja yang mereka ketahui tentang topik yang dibahas atau bisa dengan cara menjawab pertanyaan uraian terbuka yang diajukan oleh guru. Bagi guru tahapan ini merupakan upaya eksplorasi pengetahuan awal siswa. Oleh karena itu, tahapan ini dapat juga dilakukan melalui wawancara internal.

4. Tahap penyusunan ulang gagasan ( restructuring of ideas)

Tahap ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu: pengungkapan dan pertukaran gagasan ( clarification and exchange), pembukaan pada situasi konflik ( eksposure to conflict situation), serta konstruksi gagasan baru dan evaluasi ( construction of new ideas and evaluation).

Pengungkapan dan pertukaran gagasan merupakan upaya untuk memperjelas atau mengungkapkan gagasan awal siswa tentang suatu topik secara umum, misalnya dengan cara mendiskusikan jawaban siswa pada langkah kedua dalam kelompok kecil, kemudian salah satu anggota kelompok melaporkan hasil diskusi ke seluruh kelas. Dalam kegiatan ini guru tidak membenarkan atau menyalahkan gagasan siswa.

Pada tahap pembukaan ke situasi konflik, siswa diberi kesempatan untuk mencari pengertian ilmiah yang sedang dipelajari di dalam buku teks. Selanjutnya siswa mencari beberapa perbedaan antara konsep awal mereka dengan konsep ilmiah yang ada dalam buku teks.

Tahap kontruksi gagasan baru dan evaluasi dilakukan dengan tujuan untuk mencocokkan gagasan yang sesuai dengan fenomena yang dipelajari guna mengkontruksi gagasan baru. Siswa diberi kesempatan untuk melakukan percobaan atau observasi, kemudian mendiskusikannya dalam kelompok untuk menyusun gagasan baru.

5. Tahap penerapan gagasan (application of ideas)

Pada tahap ini siswa dibimbing untuk menerapkan gagasan baru yang dikembangkan melalui percobaan atau observasi ke dalam situasi baru. Gagasan baru yang sudah direkonstruksi dalam aplikasinya dapat digunakan untuk menganalisis isu-isu dan memecahkan masalah yang ada di lingkungan.

6. Tahap pemantapan gagasan(reviuw change in ideas)

Konsepsi yang telah diperoleh siswa perlu diberi umpan balik oleh guru untuk memperkuat konsep ilmiah tersebut. Dengan demikian, siswa yang konsepsi awalnya tidak konsisten dengan konsep ilmiah akan dengan sadar mengubahnya menjadi konsep ilmiah.

III Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

Pembelajaran kooperatif tipe STAD ini merupakan salah satu tipe dari model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan kelompok-kelompok kecil dengan jumlah anggota tiap kelompok 4-5 orang siswa secara heterogen. Diawali dengan penyampaian tujuan pembelajaran, penyampaian materi, kegiatan kelompok kuis dan penghargaan kelompok.

Slavin (dalam Nur,2000:26) menyatakan bahwa pada STAD siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggota 4-5 orang yang merupakan campuran menurut tingkat prestasi, jenis kelamin, dan suku. Guru menyajikan pelajaran, dan kemudian siswa bekerja dalam tim mereka memastikan bahwa seluruh anggota tim telah mengusai pelajaran tersebut. Kemudian, seluruh siswa diberikan tes tentang materi tersebut, pada saat tes ini mereka tidak diperbolehkan saling membantu.

Seperti halnya pembelajaran lainya, pembelajaran kooperatif tipe STAD ini juga membutuhkan persiapan yang matang sebelum kegitan pembelajaran dilaksanakan. Persiapan –persiapan tersebut adalah:

a. Perangkat pembelajaran

Sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran ini perlu dipersiapkan perangkat pembelajarannya, yang meliputi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Buku siswa, lembar kegitan siswa (LKS) beserta lembar jawabanya.

b. Membentuk kelompok kooperatif

Menentukan anggota kelompok diusahakan agar kemampuan siswa dalam kelompok adalah heterogen dan kemampuan antara satu kelompok dengan kelompok yang lainnya relatif homogen. Apabila memungkinkan kelompok kooperatif perlu memperhatikan ras, agama, jenis kelamin dan latar belakang sosial. Apabila dalam kelas terdiri atas ras, agama, jenis kelamin dan latar belakang yang relatif sama, maka pembentukan kelompok dapat didasarkan pada prestasi akademik.

c. Menentukan skor awal

Skor awal yang dapat digunakan dalam kelas kooperatif adalah nilai ulangan sebelumnya. Skor awal ini dapat berubah setelah ada kuis. Misalnya pada pembelajaran lebih lanjut dan setelah diadakan tes, maka hasil tes masing-masing individu dapat dijadikan skor awal.

d. Pengaturan tempat duduk

Pengaturan tempat duduk dalam kelas kooperatif perlu juga diatur dengan baik, hal ini dilakuan untuk menunjang keberhasilan pembelajaran kooperatif apabila tidak ada pengaturan tempat duduk dapat menimbulkan kekacauan yang menyebabkan gagalnya pembelajaran pada kelas kooperatif.

e. Kerja kelompok

Untuk mencegah adanya hambatan pada pembelajaran kooperatif tipe STAD, terlebih dahulu diadakan latihan kerjasama kelompok. Hal ini bertujuan untuk lebih jauh mengenalkan masing-masing individu dalam kelompok.

Langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe STAD ini didasarkan pada langkah-langah kooperatif yang terdiri atas enam langkah atau fase. Fase-fase dalam pembelajaran ini seperti tersajikan dalam tabel.

Tabel 2

Fase – fase pembelajaran kooperatif tipe STAD

Fase

Kegiatan Guru

Fase 1

Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa

Fase 2

Menyajikan atau menyampaikan informasi

Fase 3

Mengorganisasikan siswa dalam kelompok-kelompok belajar.

Fase 4

Membimbing kelompok bekerja dan belajar

Fase 5

Evaluasi

Fase 6

Memberikan penghargaan

Menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.

Menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan mendemonstrasikan atau lewat bahan bacaan.

Menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.

Membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.

Mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah diajarkan atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.

Mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu maupun kelompok.

( Sumber: Ibrahim, dkk. 2000:10 )

IV Model Pembelajaran Tipe Jigsaw

a) Gambaran umum jigsaw

Jigsaw telah dikembangkan dan diuji coba oleh Elliot Arason dan teman-teman dari universitas Texas, dan hasil adopsi oleh Slavin dan teman-teman di universitas John Hopkins.

b) Langkah-langkah pembelajaran jigsaw

· Siswa dibagi atas beberapa kelompok ( tiap-tiap kelompok anggotanya 5-6 orang ).

· Materi pelajaran yang diberikan kepada siswa dalam bentuk tes yang telah dibagi-bagi menjadi beberapa sub bab.

· Setiap anggota kelompok membaca sub bab yang ditugaskan dan bertanggung jawab untuk mempelajarinya. Misalnya, jika materi yang disampaikan mengenai system ekskresi. Maka seorang siswa dari satu kelompok mempelajari tentang ginjal, siswa yang lain dari kelompok satunya mempelajari tentang paru-paru, begitupun siswa yang lainnya mempelajari kulit ,dan lainnya lagi mempelajari hati.

· Anggota dari kelompok lain yang telah mempelajari sub bab yang sama bertemu dalam kelompok-kelompok ahli untuk mendiskusikannya.

· Setiap anggota kelompok ahli setelah kembali ke kelompoknya bertugas mengajar teman-temannya.

· Pada pertemuan dan diskusi kelompok asal, siswa-siswa dikenai tagihan berupa kuis individu.

V Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Investigasi Kelompok

Investigasi kelompok merupakan model pembelajaran kelompok yang paling kompleks dan paling sulit untuk diterapkan. Model ini dikembangkan pertama kali oleh Thelan. Dalam perkembangnya model ini diperluas dan dipertajam oleh Sharan dari universitas Tel Aviv. Berbeda dengan STAD dan Jigsaw, siswa terlibat dalam perencanaan baik topik yang dipelajari dan bagaimana jalannya penyelidikan mereka. Pendekatan ini memerlukan norma dan struktur kelas yang lebih rumit daripada pendekatan yang lebih berpusat pada guru. Pendekatan ini juga memerlukan mengajar siswa keterampilan komunikasi dan proses kelompok yang baik.

Dalam implementasi tipe investigasi kelompok guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok dengan anggota 5-6 siswa yang heterogen. Kelompok di sini dapat dibentuk dengan mempertimbangkan keakraban persahabatan atau minat yang sama dalam topik tertentu. Selanjutnya siswa memilih topik untuk diselidiki, dan melakukan penyelidikan yang mendalam atas topik yang dipilih. Selanjutnya ia menyiapkan dan mempresentasikan laporannnya kepada seluruh kelas.

Sharan, dkk (1984) membagi langkah-langkah pelaksanaan model investigasi kelompok meliputi 6 (enam) fase.

v Memilih topik

Siswa memilih subtopik khusus di dalam suatu daerah masalah umum yang biasanya ditetapkan oleh guru. Selanjutnya siswa diorganisasikan menjadi dua sampai enam anggota tiap kelompok menjadi kelompok – kelompok yang berorientasi tugas. Komposisi kelompok hendaknya heterogen secara akademis maupun etnis.

v Perencanaan kooperatif

Siswa dan guru merencanakan prosedur pembelajaran tugas dan tujuan khusus yang konsisten dengan subtopik yang telah dipilih pada tahap pertama.

v Implementasi

Siswa menerapkan rencana yang telah mereka kembangkan di dalam tahap kedua. Kegitan pembelajaran hendaknya melibatkan ragam aktivitas dan keterampilan yang luas dan hendaknya mengarahkan siswa kepada jenis-jenis sumber belajar yang berbeda baik di dalam atau di luar sekolah. Guru secara ketat mengikuti kemajuan tiap kelompok dan menawarkan bantuan bila diperlukan.

v Analisis dan sintesis

Siswa menganalisis dan mensintesis informasi yang diperoleh pada tahap ketiga dan merencanakan bagaimana informasi tersebut diringkas dan disajikan dengan cara yang menarik sebagai bahan untuk dipresentasikan kepada seluruh kelas.

v Presentasi hasil final

Beberapa atau semua kelompok menyajikan hasil penyelidikan dengan cara yang menarik kepada seluruh kelas, dengan tujuan agar siswa yang lain saling terlibat satu sama lain dalam pekerjaan mereka dan memperoleh perspektif luas pada topik itu. Presentasikan dikoordinasi oleh guru.

v Evaluasi

Dalam hal kelompok – kelompok mengenai aspek yang berbeda dari topik yang sama, siswa dan guru mengevaluasi tiap kontribusi kelompok terhadap kerja kelas sebagai satu keseluruhan. Evaluasi yang dilakukan dapat berupa penilaian individual atau kelompok.

VI Model Pembelajaran Tipe Think Pair Share (TPS)

Strategi think –pair share (TPS) atau berpikir berpasangan berbagai adalah merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Strategi think pair share ini berkembang dari penelitian belajar kooperatif dan waktu tunggu. Pertama kali dikembangkan oleh Frang Lyman dan Koleganya di universitas Maryland sesuai yang dikutip Arends (1997),menyatakan bahwa think pair share merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas. Dengan asumsi bahwa semua resitasi atau diskusi membutuhkan pengaturan untuk mengendalikan kelas secara keseluruhan, dan prosedur yang digunakan dalam think pair share dapat memberi siswa lebih banyak waktu berpikir, untuk merespon dan saling membantu. Guru memperkirakan hanya melengkapi penyajian singkat atau siswa membaca tugas, atau situasi yang menjadi tanda tanya . Sekarang guru menginginkan siswa mempertimbangkan lebih banyak apa yang telah dijelaskan dan dialami .Guru memilih menggunakan think-pair-share untuk membandingkan tanya jawab kelompok keseluruhan.

Guru menggunakan langkah-langkah ( fase ) berikut:

2) Langkah 1 : Berpikir ( thinking )

Guru mengajukan suatu pertanyaan atau masalah yang dikaitkan dengan pelajaran, dan meminta siswa menggunakan waktu beberapa menit untuk berpikir sendiri jawaban atau masalah.

3) Langkah 2 : Berpasangan ( pairing )

Selanjutnya guru meminta siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan apa yang telah mereka peroleh. Interaksi selama waktu yang disediakan dapat menyatukan jawaban jika suatu pertanyaan yang diajukan menyatukan gagasan apabila suatu masalah khusus yang diidentifikasi. Secara normal guru memberi waktu tidak lebih dari 4 atau 5 menit untuk berpasangan.

4) Langkah 3 : Berbagi ( sharing )

Pada langkah akhir, guru meminta pasangan-pasangan untuk berbagi dengan keseluruhan kelas yang telah mereka bicarakan. Hal ini efektif untuk berkeliling ruangan dari pasangan ke pasangan dan melanjutkan sampai sekitar sebagian pasangan mendapat kesempatan untuk melaporkan. Arends, (1997) disadur Tjokrodihardjo, (2003).

VII Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT

Numbered Head Together ( NHT) atau penomoran berpikir bersama adalah merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan sebagai alternatif terhadap struktur kelas tradisional. NHT pertama kali dikembangkan oleh Spenser Kagen (1993) untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut.

Dalam mengajukan pertanyaan kepada seluruh kelas, guru menggunakan struktur empat fase sebagai sintaks NHT:

1) Fase 1: Penomoran

Dalam fase ini guru membagi siswa ke dalam kelompok 3-5 orang dan kepada setiap anggota kelompok diberi nomor antara 1 sampai 5.

2) Fase 2: Mengajukan pertanyaan

Guru mengajukan sebuah pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan dapat bervariasi. Pertanyaan dapat sangat spesifik dan dalam bentuk kalimat tanya.

3) Fase 3: Berpikir bersama

Siswa menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan itu dan meyakinkan tiap anggota dalam timnya mengetahui jawaban tim.

4) Fase 4: Menjawab

Guru memanggil suatu nomor tertentu, kemudian siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangannya dan mencoba menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas.

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Demikian model-model pembelajaran inovatif yang penulis bahas; memang masing-masing model memiliki sintaks, langkah-langkah yang berbeda-beda, sehingga menuntut kretifitas guru dalam memilih agar sesuai dengan materi ajar.

Setiap model dikatakan baik bila memenuhi kriteria sebagai berikut:

a) Sesuai dengan tujuan yang dirumuskan

b) Dapat dilaksanakan sesuai dengan kemampuan guru dan pemimpin

c) Tergantung pula pada kemampuan orang yang belajar

d) Melihat waktu penggunaannya

e) Melihat fasilitas yang ada

Untuk memenuhi kriteria itu, kita telah diperkenalkan dengan bermacam-macam model pembelajaran. Silahkan dipilih manakah yang cocok untuk materi yang akan diberikan kepada siswa, dengan harapan hasil interaksi belajar mengajar itu dapat berdaya guna dan berhasil guna serta memanfaatkan media yang ada.

B. SARAN

Salah satu masalah pokok dalam pembelajaran pada pendidikan formal ( sekolah ) dewasa ini adalah masih rendahnya daya serap peserta didik. Hal ini disebabkan bahwa proses pembelajaran hingga dewasa ini masih memberikan dominasi guru dan tidak memberikan akses bagi anak didik untuk berkembang secara mandiri melalui penemuan dan proses berpikirnya.

Rendahnya hasil belajar peserta didik juga proses pembelajaran yang didominasi oleh pembelajaran tradisional. Pada pembelajaran ini suasana kelas cenderung teacher – centered sehingga siswa menjadi pasif.

Oleh karena itu, dianjurkan bagi para guru untuk menerapkan model- model pembelajaran inovatif dalam proses belajar mengajar sehari-hari agar pembelajaran lebih menyenangkan, mencerminkan siswa aktif ( student centered ) dan siswa lebih kreatif sehingga dapat meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa.

Bagi para calon guru diharapkan untuk lebih mendalami teori tentang model-model pembelajaran inovatif agar dapat diterapkan di sekolah dasar nanti dengan baik dan benar.

Daftar Pustaka

1. Trianto, S. Pd., M. Pd. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif. Banjarmasin.

2. Dra. Roestiyah N. K. 2008. Strategi Balajar Mengajar. Jakarta.

3. Dr. E. Mulyasa, M.Pd. 2007. Manjadi Guru Profesional. Bandung

4. Model – model pembelajaran hasil diskusi Worshop

4 komentar:

tina mengatakan...

halo marselina
saya tina
saya ingin menyusun proposal skripsi dengan materi kimia larutan penyangga, dan saya tertarik menggunakan model CLIS
saya ingin bertanya apakah kekurangan dan kelebihan dari model CLIS?
apa persamaan dan perbedaanya dengan model model yang lainnya seperti model PBL, PBI, atau learning cycle?
GBU

tina mengatakan...

bisakah saya mengetahui darimana sumber buku yang digunakan oleh anda
GBU

CV RAHMAT mengatakan...

Hebat kamu Marselina dan kami yakin kamu menjadi harapan ortu mu yang baik dimasa depan dan coba bergabung dengan kami dengan mengklik di http://plazapulsa.com/?id=cvrahmat dan kami yakin kita akan dapat untung terus sambil bekerja

Ema mengatakan...

apakah penggunaan model CLis hanya bisa untuk materi yang menggunakan percobaan? gimana kalo kalau digunakan untuk materi stuktur atom atau sistem periodik? cocok nggak?